Festival Hudoq Pekayang Jalin Kebersamaan Warga Pedalaman Mahakam

November 1, 2016 by  
Filed under Headline, Profil

Long Tuyoq – Sebanyak 802 penari Hudoq dari 13 kampung yang berada di Kecamatan Long Pahangai memeriahkan gelaran Festival Hudoq Pekayang 2016 yang dilaksanakan di  kampung Long Tuyoq Kecamatan Long Pahangai, 22-23 Oktober 2016..

Festival Hudoq Pekayang merupakan acara rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Gelaran ini diisi dengan berbagai tarian khas Suku Dayak seperti Tari Hudoq, salah satu tari khas suku Dayak yang  juga menjadi maskot Kabupaten Mahakam Ulu.img_3347Tari Hudoq adalah tari ucapan rasa syukur mayarakat atas hasil panen yang berlimpah dan akan dimulainya musim tanam padi. Agar terhindar dari bala bencana dan serangan hama, maka digelarlah Tari Hudoq ini. Aneka karekter topeng Hudoq ditampilkan mewakili masing-masing karekter, seperti wajah babi, anjing, burung, hingga hama pengganggu lainnya.

Menurut tradisi, acara Hudoq digelar setiap musim menugal (menanam padi) di ladang pada bulan September – Oktober setiap tahun. Maknanya, memohon berkat Tuhan agar padi yang ditanam nanti menghasilkan bulir yang berlipat-lipat hingga membawa kemakmuran bagi masyarakat. Secara turun-temurun, acara ini digelar berpindah-pindah dari kampung ke kampung lain setiap tahun.

Acara tersebut terdiri dari empat sesi yang sarat dengan makna. Pertama, disebut Sak Baaq Hudoq (santap Hudoq) yaitu memberi makan untuk topeng Hudoq sebagai syarat dan makan untuk penarinya. Menu makanan berupa ketan dan telur ayam kampung rebus.

Kedua, Tengaran Hudoq (bicara Hudoq) yaitu, berbicara dalam bahasa Hudoq untuk memberitakan maksud kedatangan dengan petinggi kampung. Perwakilan Hudoq dan petinggi kampung duduk di atas gong. Jika telah disampaikan maksud dan tujuannya maka Hudoq lainnya bersorak dalam bahasa Hudoq.

1477973155647Disinilah keunikannya, karena suara itu sulit diikuti oleh orang awam yang menonton. Suara tersebut terdengar riuh  sederhana namun sangat khas didengar oleh telinga orang awam.

Ritual ketiga, adalah Ngenyah Hudoq (menari Hudoq) yaitu, satu perwakilan dari Hudoq tuan rumah (kampong) untuk menari sebagai pembuka acara.

Terakhir, Ngaraang Aruq atau Ngarang Hudoq (menari panjang) yaitu setiap perwakilan Hudoq masing-masing kampung menari bergantian dengan membuat lingkaran panjang di tengah rumah panjang atau lamin adat.

Selanjutnya, dimulailah Festival Hudoq Pekayang tersebut, semua penari dan masyarakat tumpah ruah di lapangan adat Kampung Long Tuyoq. Semua menari mengikuti irama musik dari siang hari hingga keesokan pagi. Lebih dari 18 jam.

Melihat euforia Hudoq Pekayang yang begitu meriah, Bupati Mahakam Ulu Bonifasius Belawan Geh terharu dan merasa bangga atas antusias masyarakat. “Saya atas nama Pemkab Mahakam Ulu maupun secara pribadi sangat menyambut baik atas terselenggarannya acara ini, sebagai rasa cinta kita kepada budaya yang sangat erat dan kuat dalam sanubari kita semua,” tuturnya.

Rombongan penari Hudoq dari berbagai kampung yang datang menggunakan transportasi sungai. Festival Hudoq ini memberi semangat kebersamaan diantara penari dan warga Dayak yang bermukim di Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim

Rombongan penari Hudoq dari berbagai kampung yang datang menggunakan transportasi sungai. Festival Hudoq ini memberi semangat kebersamaan diantara penari dan warga Dayak yang bermukim di Kabupaten Mahakam Ulu, Kaltim

Dalam kesempatan itu, Camat Kecamatan Long Pahangai Thomas Tekwan mengatakan, acara tradisi Hudoq Pekayang yang tahun ini merupakan tahun ketiga dengan tujuan untuk melestarikan seni budaya Hudoq yang merupakan bagian dari seni adat Dayak Bahau, menggali dan mengembangkan seni budaya Hudoq yang mulai tenggelam oleh pengaruh modernisasi.

“Sebagai ajang komunikasi budaya sosial antar masyarakat, juga diharapkan acara ini bisa menjadi kalender pariwisata yang di peringati setiap tanggal 17 Oktober setiap tahunnya,” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Pembangunan Perbatasan Daerah (BPPD) Kaltim Frederik Bid menuturkan, kebudayaan lokal khas daerah seperti itu harus terus dilestarikan agar dikenal generasi selanjutnya. Filosofinya adalah bangsa yang besar adalah yang menghargai dan melestasikan budaya, karena menjadi identitas dengan kekhasannya.

“Selain itu, bila acara ini dikemas dengan baik dapat menjadi daya tarik potensi wisata di Mahakam Ulu. Terlebih sektor pariwisata nantinya bisa menjadi andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Mahulu disamping sektor terbarukan lainnya,” harap Frederik Bid.

Sementara itu, hasil rembug para tetua adat, menetapkan untuk Festival Hudoq Pekayang tahun 2017 akan diselenggarakan di Kampung Long Pakaq selama dua hari. (vb/rdg/*)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.