Pertamina Pionir Klaster Industri Olahan Pisang

January 17, 2017 by  
Filed under Profil

Tumpukan hasil panen buah pisang yang menua namun tak laku dijual menjadi pemandangan yang jamak terlihat disepanjang jalan poros yang menghubungkan Kota Samarinda,  Kota Bontang hingga Kota Sangatta. Panen para petani sia sia karena rendahnya nilai ekonomis buah pisang. Bukannya untung yang diraih malah buntung yang didapat.Kondisi tersebut, tentunya menjadi keprihatinan banyak pihak, tidak terkecuali PT. Pertamina EP Asset 5 Field Sangatta Area Samarinda. Melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR), solusi permasalahan terbuka dengan pendekatan klaster industri lokal  pangan olahan pisang, di Kalimantan Timur (Kaltim).

Edy Achmadi – staf Humas Pertamina EP Asset 5 mengatakan program ini memberi nilai tambah di aspek hilir. Pangan olahan pisang memberikan nilai ekonomi tinggi yang konstan dan berkelanjutan, dibandingkan produk hulu yang tergantung pada kondisi  alam seperti panen berlimpah yang membuat harga produk menjadi jatuh.

Program pengembangan pangan olahan pisang yang merupakan program unggulan CSR Pertamina menjadi pionir dalam pengembangan pangan olahan pisang karena di Kaltim pangan olahan pisang belum dilirik menjadi produk unggulan daerah.

“Keunggulan pendekatan program ini adalah peningkatan daya saing daerah untuk pengembangan ekonomi lokal yang tematik melalui kolaborasi antar stakeholder,” kata pria yang sudah bergelut di pendampingan masyarakat selama 16 tahun ini..

Sehingga yang dilakukan Pertamina tidak hanya sekedar mendampingi dan melatih untuk mampu membuat produk makanan dari pisang tetapi makanan olahan pisang yang berdaya saing. Sehingga, nantinya  layak mendapat predikat produk unggulan Kaltim  sebagai alternatif oleh-oleh selain dari amplang.

Dituturkannya, pasca alih kelola lapangan migas Blok Semberah di Kalimantan Timur, dari TAC Pertamina –EMP Semberah kepada PT. Pertamina EP Asset 5 tahun 2015 lalu,  program pengembangan masyarakat  atau lebih dikenal dengan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang telah dirintis oleh EMP Semberah, tetap dilanjutkan oleh PT. Pertamina EP Asset 5 Field Sangatta Area Samarinda.

Program pengembangan masyarakat PT. Pertamina Asset 5, diawali oleh TAC Pertamina – PT. EMP Semberah, melalui proses identifikasi potensi dan masalah melalui pemetaan sosial (social mapping). Selanjutnya hasil pemetaan sosial di sampaikan kepada   pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pelaku usaha.

Dalam sebuah kegiatan ‘Rembuk Bisnis’ Focus Group Discussion (FGD) tercetuslah  ide untuk membangun kolaborasi Pengembangan Ekonomi Lokal dalam sistem klaster industri.

Dalam rembuk bersama,  telah berhasil dirumuskan tema pembangunan ekonomi lokal, untuk meningkatkan daya saing daerah yaitu Pangan Olahan Berbahan Baku Pisang  di Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Selanjutnya,  hasil rumusan diimplementasikan melalui kegiatan Pelatihan Pangan Olahan Berbahan Baku Pisang pada tahun 2011 yang dikuti oleh 30 orang peserta.

Program tersebut telah berhasil melahirkan pionir pelaku usaha baru pangan olahan pisang seperti  Ibu Rina Aslianty dengan ikon baru oleh-oleh khas Kaltim yaitu dodol pisang bermerk dagang ‘Bandol’ dan aneka kue kering berbahan baku pisang seperti nastar pisang dan  nastar pisang keju.

Dengan pendampingan dari PT. Pertamina EP Asset 5 Field Sangatta Area Samarinda, Ibu Rina telah berinovasi membuat varian produk dodol yaitu Dodol Salak dan Dodol Nanas.  “Kini,   omset dodol pisang terus berkembang  mencapai Rp.5 juta rupiah per bulan,” kata Ibu Rina.

Dampak selanjutnya, dari program saat ini adalah munculnya ketertarikan masyarakat untuk turut belajar membuat aneka makanan olahan. Melalui proses magang,  20 orang ibu rumah tangga menyerap  ilmu  di rumah produksi ‘Bandol’

Seiring dengan berkembangnya usaha dodol pisang,  maka terbangun pula rantai pasokan pangan lainnya seperti munculnya  pemasok buah pisang, gula aren, kelapa parut dan lainnya. Dari terbangunnya Klaster Industri Lokal Pangan Olahan Pisang, kini terdapat 15 orang mitra pemasok bahan baku.

Sebagai buah tangan baru khas Kaltim, produk Bandol sudah tersedia di 15 outlet yang tersebar di Kota Samarinda dan Balikpapan. Harapannya, dodol pisang ini mampu bersanding dengan buah tangan khas Kaltim lainnya yang sudah terkenal sejak lama seperti amplang, olahan kepiting dan sarung samarinda.(vb/hel)

 

 

 

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.