Seribu Penari Ronggeng Meriahkan HUT PPU Ke-15

March 13, 2017 by  
Filed under Headline

VIVABORNEO.COM, Mendengar  kata Tari Ronggeng, sebagian dari kita mungkin akan berpikir bahwa tari ini hanya ada di Betawi ataupun Jawa Barat saja. Ternyata, Tari Ronggeng juga ada di Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Seribu orang peserta membawakan Tari Ronggeng pada HUT Kabupaten PPU ke-15

Seribu orang menarikan Tari Ronggeng meramaikan HUT Kabupaten Penajam Paser Utara Ke-15, Sabtu (11/03/2017). Para penari berasal dari masing-masing organisasi  perangkat daerah, sanggar tari, kepolisian dan TNI  serta anak-anak sekolah dan  berbagai organisasi wanita di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Tari Ronggeng merupakan tari pergaulan dan melambangkan kegembiraan. Tari ini dinamakan Tari Ronggeng Paser karena Kabupaten Penajam Paser Utara merupakan hasil pemekaran Kabupaten Paser di tahun 2002.

Sementara itu, pelatih Tari Ronggeng HUT Penajam Paser Utara, Jamal Loge mengatakan bahwa Tari Ronggeng yang ditarikan pada HUT Kabupaten ini merupakan tari dasar saja sehingga mudah diikuti oleh seluruh peserta.

“Hanya perlu waktu dua minggu untuk melatih kekompakan dan gerak tangan dan kaki para peserta untuk dapat seirama dengan alunan musik, karena yang ditarikan hanya gerakan dasar ronggeng  saja,” ucapnya.

Menurut Biro Pengkajian Adat Istiadat Paser DPW Lembaga Adat Paser, dari cerita lisan yang disampaikan turun temurun (folklor oral) yang disebut dengan Sempuri, dikisahkan jaman dahulu tersebutlah sepasang suami-istri yang memiliki seorang anak gadis yang suka menari ronggeng.

Kegemarannya menari ronggeng bahkan hingga dikenal oleh enam bidadari dari khayangan. Suatu ketika si gadis menari bersama bidadari dan karena asyiknya, para bidadai membawa sang gadis ke khayangan mengikuti mereka.

Kerinduan ayah dan ibu si gadis tidak dapat terobati karena hilangnya anak mereka. Bertahun-tahun sang ayah mencari dan pada suatu ketika menemukan ada tujuh wanita cantik menari ronggeng dan salah satu diantaranya adalah anak mereka, si gadis cantik rupawan yang hilang.

Sang ayah memohon kepada para bidadari agar dapat membawa anak gadisnya pulang. Namun, para bidadari memberi syarat, yaitu sang ayah harus mampu membuat suara yang mirip dengan kibasan selendang yang para bidadari kenakan.

Pada suatu ketika, dengan berbagai usaha, sang ayah mampu menciptakan alat yang bunyinya mirip dengan kibasan selendang bidadari. Alat itu memiliki tujuh dawai senar, yang kini dikenal sebagai alat musik gambus.

Masuknya agama Islam pada abad ke-17 ke Kalimantan Timur membawa kesenian Jepen atau Jappin  dengan ciri adanya alat musik gambus.

Kemudian pada masa kejayaan Kesultanan Paser di abad ke-18, Tarian Ronggeng menjadi tarian penyambutan tamu agung kerajaan. Seiring dengan berjalannya waktu, Tari Ronggeng Paser menjadi tarian penghibur dan dapat ditarikan pada acara-acara semisal pernikahan dan acara-acara hiburan lainnya.

Jenis irama dan gerakan yang khas pada Tari Ronggeng Paser ada pada Penteng yang terdiri dari gerakan tirik, mainang, batu sopang, pedangkat anyut dan jeppen.(vb/yul)

 

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.