Situs Kerajaan Mulawarman Masih Menjadi Tujuan Favorit

March 26, 2014 by  
Filed under Headline

Kutai Kartanegara, vivaborneo.com, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah berupaya melestarikan situs cagar budaya purbakala di Kecamatan Muara Kaman dengan membangun museum dan segala kelengkapannya. Terbukti upaya ini cukup berhasil karena kunjungan per minggu dari museum purbakala ini dapat mencapai 50-100  yang datang dari berbagai kota, termasuk dari Provinsi Bali. Ini dijelaskan oleh petugas museum purbakala Muara Kaman, Effendy saat ditemui Minggu (23/3).http://http://i1286.photobucket.com/albums/a606/borneobaru/DSCN0302_zps79fd8370.jpgSaat ini akses jalan yang rusak memang masih menjadi kendala bagi masyarakat untuk mencapai lokasi situs purbakala ini, sehingga masih banyak masyarakat terutama pelajar dan mahasiswa yang tidak tahu keberadaan situs ini,” ujarnya.

Koleksi museum purbakala Muara Kaman ini memang terbilang sedikit. Dalam ruangan yang luas hanya ditata tujuh buah prasasti batu yang mengisahkan tentang pengorbanan Raja Mulawarman di abad 4-5 Masehi. Itupun hanya prasasti replika karena batu –batu prasasti yang asli berada di Museum Nasional di Jakarta.

Untuk mencapai museum ini, pengunjung dapat memilih jalur darat menggunakan mobil dari Samarinda menuju Kecamatan Teluk Dalam. Namun akses jalan ini hingga saat ini masih rusak ringan hingga sedang.

Sedangkan jika menggunakan jalur sungai dapat dari Pelabuhan kapal di Sungai Kunjang. Selain itu juga dapat melalui jalan darat dari Samarinda-Tenggarong menuju arah Kecamatan Kota Bangun. Sebelum sampai Kota Bangun, langsung berbelok ke Kecamatan Muara Kaman dan dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan kapal ketinting ataupun penyeberangan kendaraan dengan jarak sekitar 85 km atau 2 jam perjalanan dari Kota Tenggarong.

Secara keseluruhan, situs kepurbakalaan ini cukup terjaga, karena beberapa benda seperti batu-batuan dan beberapa makam raja maih terjaga dengan baik. Bahkan beberapa makam yang berada di lingkungan museum dipagar dan diberi beebrapa ornament.

Effendy menjelaskan bahwa museum purbakal a ini berisi cerita tentang Kerajaan Kutai tempo dulu yang dipimpin oleh Maharaja Mulawarman yang beragama Hindu. Dalam perjalanannya kerajaan ini berangsur mendapat pengaruh Islam sehingga raja dan kerlaurga serta masyarakatnya memeluk agama Islam.

“Jadi ada dua agama yang ada di situs purbakala ini yaitu Hindu dan Islam. Sehingga tidak jarang banyak penganut agama Hindu terutama dari Provinsi Bali datang khusus ke Muara Kaman,” jelasnya.

Wajar saja penganut Hindu Bali datang ke Muara Kaman karena mereka percaya, bahwa sebagai kerajaan tertua di Indonesia, agama Hindu masuk ke Indonesia melalaui kerajaan tua ini.

Sementara bagi bagi masyarakat setempat yang Bergama Islam, masyarakat sering berziarah ke makam sebagai syarat bagi mereka yang ingin membuka usaha baru. Apalagi masayarat sekitar Kecamatan Muara Kaman dan sekitarnya kebanyakan adalah masyarakat pendatang dari Kalimantan Selatan.

Situs-situs yang terdapat di komplek museum purbakala ini adalah tujuh buah replika prasasti acara kurban 10.000 ekor kerbau, temuan barang-barang penggalian purbakala, batu prasasti yang belum sempat dipahat (ditulis) dan posisinya masih tergeletak (rebah), komplek makam raja-raja Islam dan batuan purbakala yang diyakini sebagai tangga candi yang oleh masyarakat setempat disebut Lembu Ngeram.

Sayangnya di situs purbakala ini sangat minim penjelasan tertulis yang mendampingi setiap benda-benda yang ada. Ini harus menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara karena pengunjung yang datang haruslah mendapat informasi yang lengkap, benar dan bermanfaat bagi pengetahuan.(vb/yuliawan)

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.