Menjaga Budaya “Petik Laut Araungang Pammase”

April 30, 2017 by  
Filed under Festival Budaya

VIVABORNEO.COM, Menilik sejarah kedatangan Suku Mandar yang  berasal dari wilayah Mamuju di Sulawesi Barat ke Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Kecamatan Penajam, Kabupaten paser Utara, menjadi sebuah rangkaian dalam bingkai sejarah Kaltim saat ini.

Suku Mandar Mamuju awalnya datang ke Penajam sekitar tahun 1940-an saat Indonesia belum merdeka. Mereka mendiami beberapa lokasi  di pesisir pantai di Kecamatan Penajam.

Letak geografis Kaltim dan Sulbar yang dekat hanya dipisahkan oleh Laut Sulawesi, menjadi alasan suku ini merantau ke daratan Kaltim yang subur dan daerahnya luas.

Sebagai ungkapan rasa syukur telah diterima di tanah Kutai (saat itu seluruh wilayah baik Samarinda, Balikpapan hingga Penajam masih masuk dalam daerah kekuasaan Kesultanan Kutai), Suku Mandar Mamuju ini kerap mengadakan ritual melabuh sesaji sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berlimpahnya rezeki yang mereka dapatkan.

Menurut salah seorang tokoh masyarakat Mandar Mamuju, Nurdin, pendekatan kepada Tuhan ini dilakukan dengan sesaji, yaitu dengan upacara adat budaya yang bernama “Petik Laut Araungang Pammase.”

Acara yang digelar awal hingga pertengahan   Maret lalu (8-14-3-2017) adalah gelaran terbesar yang melibatkan Suku Mandar Mamuju di seluruh Kabupaten Penajam Paser Utara.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh generasi ke tiga dari pelopor upacara yang puncak acaranya melarung miniatur kapal yang berisi aneka makanan dan persembahan ini.

Rangkaian acara dimulai dengan diawali duduk bersama dan berdoa sebelum makan bersama dilakukan. Kemudian tarian penyambutan tamu dilakukan oleh putri-putri cantik Suku Mandar yang penuh keceriaan. Setelah sesaji ditata di atas empat buah miniatur perahu yang terbuat dari pelepah daun rumbia, barulah pemimpin adat memerintahkan melarung kapal tersebut ke lepas pantai. Setelaj agak jauh dari bibir pantai, kapal-kapal tersebut ditarik oleh perahu bermesin untuk membawanya ke tengah laut dalam.

Prosesi belum berakhir. Sebuah tarian kegembiraan dibawakan kembali oleh gadis-gadis cantik. Usai tari enerjik tersebut, barulah pemimpin adat membaca doa dan mempersilahkan tamu untuk mencicipi kue-kue sesaji yang umumnya jajanan pasar yang manis-manis sebagai harapan kehidupan yang indah dan manis di masa depan.

Walau awalnya dilaksanakan secara sederhana oleh kelompok Suku Mandar Mamuju sejak tahun 1940-an setiap tahun, namun pelaksanaan tahun 2017 di Kelurahan Sungai Parit RT 2, Penajam ini menjadi kegiatan adat yang terbesar dalam sejarah  “Petik Laut Araungang Pammase.”

Sayangnya, dukungan Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata masih kurang. Kegiatan ini tidak dihadiri pejabat pemkab. Hanya terlihat undangan dari anggota DPRD PPU yang mungkin berasal dari Suku Mandar. Selain itu hanya  kehadiran beberapa lurah dan tokoh masyarakat saja yang terlihat.

Nurdin berharap kegiatan ini dapat masuk dalam agenda kalender event Dinas Pariwisata Kabupaten PPU agar dapat diselenggarakan setiap tahun, mendampingi kegiatan budaya yang dilaksanakan oleh suku-suku lainnya yang ada di Kabupaten PPU.

“Kami berharap sekali agar kegiatan Petik Laut Araungang Pammase ini menjadi agenda tahunan pariwisata Kabupaten PPU, agar kita dapat melestarikan budaya dan mendatangkan wisatawan ke Penajam,” harapnya.

Puncak kegiatan acara yang berlangsung ramai oleh kehadiran warga Mandar Mamuju ini, bukti rukun dan akrabnya sesama mereka dalam membangun kehidupan sehari-hari sejak 70-an tahun silam.

Sementara itu, mantan Bupati PPU, Andi Harahap yang turut hadir, mengharapkan potensi wisata baik pantai dan budaya Mandar Mamuju ini dapat dikelola dengan baik sehingga mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga sekitarnya.

“Kita memiliki garis pantai yang panjang dan cukup indah. Kalau dapat dikelola dengan baik tidak akalah dengan Bali yang dapat mengelelola alam dan budayanya. Kita mengapresiasi acara budaya ini sebagai salah satu keanekaragaman suku yang ada di Kabupaten PPU ini,“ ucap Andi Harahap.(vb/ya)

 

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.